Wajah Dua Sisi, Ciri-Ciri Manusia Munafik dalam Islam

Munafik dalam Islam

SANTRIWEB – Agama Islam mengajarkan nilai-nilai moral dan etika yang tinggi, termasuk tentang karakter yang jujur dan tulus. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam masyarakat, terdapat manusia yang memiliki sifat munafik.

Munafik, dalam konteks agama Islam, merujuk pada seseorang yang menunjukkan keimanannya secara lahiriah, namun sebenarnya hatinya penuh dengan kebohongan dan ketidakjujuran. Dalam tulisan ini, kita akan membahas ciri-ciri manusia berkarakter munafik dalam agama Islam beserta dalil dan sebab-sebabnya.

Bacaan Lainnya
  • Tidak Konsisten dalam Iman dan Amal

Salah satu ciri utama manusia munafik adalah ketidak konsistenan dalam iman dan amal perbuatannya. Mereka tampak beriman di hadapan orang lain, tetapi keislaman mereka hanya sebatas lapisan kulit. Dalil yang mencerminkan hal ini terdapat dalam Surah Al-Baqarah (2:8), yang menyatakan, “Dan di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,’ padahal sesungguhnya mereka bukanlah orang-orang yang beriman.”

Sebab ketidak konsistenan ini bisa disebabkan oleh keinginan untuk mendapatkan simpati atau dukungan dari lingkungan sekitar tanpa sungguh-sungguh menghayati nilai-nilai iman yang sejati.

  • Kebanyakan Bersumpah Dalam Kebohongan

Dalil yang menjelaskan ciri ini terdapat dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, “Tanda-tanda orang munafik adalah tiga: ketika ia berbicara, ia berdusta; ketika ia berjanji, ia ingkar; dan ketika ia dipercayakan, ia berkhianat.” (HR. Bukhari)

Manusia munafik seringkali menggunakan sumpah untuk memperkuat kebohongan mereka, sehingga tindakan ini menjadi tanda yang dapat diwaspadai oleh umat Islam.

  • Menjauhi Kewajiban Agama dengan Alasan-alasan Tertentu

Seorang munafik cenderung menjauhi kewajiban agamanya dengan berbagai alasan yang tidak beralasan. Mereka mungkin terlihat aktif dalam ibadah di depan publik, tetapi sebenarnya mereka menghindari kewajiban-kewajiban agama yang tidak dapat dilihat orang banyak.

Dalil yang relevan dapat ditemukan dalam Surah An-Nisa (4:142), “Sesungguhnya orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.”

Sebab-sebab dari perilaku ini dapat berkisar dari dorongan untuk mempertahankan citra positif di mata orang lain hingga niat yang tidak tulus dalam beribadah kepada Allah SWT.

  • Reaksi Berlebihan dalam Menghadapi Kesulitan

Ketika menghadapi kesulitan atau cobaan, manusia munafik cenderung menunjukkan reaksi berlebihan atau bahkan kehilangan kesabaran. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Munafiqun (63:10), “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah beriman sebagaimana orang-orang telah beriman,’ mereka menjawab, ‘Apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang yang bodoh itu?’ Sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak mengetahui.”

Mereka tidak memiliki ketabahan iman yang sejati, dan reaksi berlebihan ini muncul karena keimanan mereka hanya bersifat sporadis dan tidak kokoh.

  • Sifat Riya’ dan Pamer

Manusia munafik seringkali cenderung melakukan amal perbuatan hanya untuk mendapatkan pujian dan pengakuan dari orang lain. Mereka bersifat riya’ (nampak) dan suka memamerkan kebaikan mereka. Dalil yang menegaskan hal ini terdapat dalam hadis riwayat Abu Hurairah, di mana Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya pertama kali yang akan diadili di antara umatku pada hari kiamat adalah seorang yang mati syahid. Allah akan mengemukakan nikmat-nikmat-Nya, lalu hamba itu menyadarinya.

Allah bertanya, ‘Apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat-nikmat ini?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang untuk-Mu sehingga mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Engkau berdusta! Kamu berperang agar dikatakan pemberani, dan sungguh demikian telah dikatakan.’ Kemudian perintahlah (dengan membawa) kepalanya dan buka penutup badannya, maka dia dibawa ke neraka.” (HR. Muslim)

Sifat riya’ ini muncul karena mereka lebih peduli dengan penerimaan manusia daripada ridha Allah.

Dalam menyikapi ciri-ciri manusia berkarakter munafik dalam agama Islam, penting bagi umat Islam untuk senantiasa memperkuat iman, melibatkan diri dalam refleksi diri, dan berusaha meningkatkan kualitas kehidupan spiritual. Dengan memahami dan menghindari perilaku munafik, umat Islam dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menjalani kehidupan yang penuh dengan integritas dan kejujuran.

Author Profile

irfan sembiring
irfan sembiring
Penulis dan jurnalis muda asal Kutalim Baru – Sumatera Utara. Memulai karier sebagai jurnalis di Media Cetak Warta Indonesia pada tahun 2022

Pos terkait